sekretariat@parokisanmare.or.id

021-745 9715, 745 9726

Jadwal Misa
Senin-Sabtu : 06.00 WIB
Jumat Pertama : 06.00, 12.00, 19.30 WIB
Sabtu : 17.00 WIB
Minggu : 06.30, 09.00, 17.00 WIB

Sampaikan Intensi Misa: WA Sekretariat SanMaRe

Warta - Tahun XIV - No 11 - 9 dan 10 Maret 2024

Mengapa Mengaku Dosa kepada Imam?

[Download versi lengkap warta - PDF]

Mengapa Mengaku Dosa kepada Imam?

Kita orang Katolik wajib mengaku dosa pada seorang imam jika kita telah melakukan suatu dosa berat di mana kita dengan sengaja memutuskan hubungan kita dengan Allah. Akan tetapi, kebanyakan orang Katolik juga pergi mengaku dosa secara berkala meskipun barangkali tidak punya dosa berat untuk disampaikan dalam pengakuan. Istilah yang lebih tepat untuk pengakuan dosa adalah Sakramen Rekonsiliasi.

Ada tiga alasan pokok umat Katolik mengaku dosa kepada imam. Pertama, Yesus telah memberikan kepada rasul-rasul kuasa untuk mengampuni dosa. “‘Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu.’ Dan sesudah berkata demikian, Ia mengembusi mereka dan berkata: ‘Terimalah Roh Kudus. Jikalau kamu mengampuni dosa orang, dosanya diampuni, dan jikalau kamu menyatakan dosa orang tetap ada, dosanya tetap ada.’” (Yohanes 20:21-23). Gereja Katolik percaya bahwa kuasa ini diturunkan kepada para uskup dan para imam sepanjang sejarah Gereja. Hal ini sejalan dengan cara Allah mengkomunikasikan diri-Nya kepada kita, yakni melalui tanda-tanda yang kelihatan. Kita adalah manusia jasmani dengan darah dan daging; melalui imam, Allah memungkinkan kita mendengar secara fisik bahwa dosa-dosa kita sudah diampuni.

Kedua, pengakuan tidak hanya mendamaikan kita kembali dengan Allah, tetapi juga mendamaikan kita kembali dengan Gereja. Dosa melukai persekutuan umat beriman. Sama seperti dua orang yang bertengkar dalam suatu pesta menimbulkan kemarahan hadirin, demikian pula dosa seorang anggota Tubuh Kristus membawa akibat terhadap persekutuan umat beriman. Pengakuan dosa kepada seorang imam sebagai wakil Gereja merupakan suatu ungkapan penyesalan dan kerinduan kita untuk dipersatukan kembali dengan Gereja.

Ketiga, imam seringkali dapat memberikan peneguhan, nasihat dan dorongan kepada peniten yang diharapkan dapat membawa perubahan yang berguna bagi hidupnya.

Disiapkan oleh Luaurentius Melvin Pratama, disadur dari

https://www.indocell.net/yesaya/pustaka4/id39.htm