sekretariat@parokisanmare.or.id

021-745 9715, 745 9726

Jadwal Misa
Senin-Sabtu : 06.00 WIB
Jumat Pertama : 06.00, 12.00, 19.30 WIB
Sabtu : 17.00 WIB
Minggu : 06.30, 09.00, 17.00 WIB

Sampaikan Intensi Misa: WA Sekretariat SanMaRe

Warta - No 01 - 6 Januari 2019

Memulai Tahun Berhikmat
Menemukan Jalan dalam Setiap Pilihan

Disiapkan oleh Bagus Marsudi

[Download versi PDF]

Memulai Tahun Berhikmat - Menemukan Jalan dalam Setiap Pilihan

Pekan ini, secara serentak, umat di Keuskupan Agung Jakarta (KAJ) secara serentak memulai Tahun Berhikmat dengan menyelenggarakan pelbagai kegiatan di tiap paroki. Sebagian paroki membuka dengan kegiatan meriah. Selain misa, beberapa menyelenggarakan kegiatan seminar/ sarasehan atau juga kegiatan keluar yang melibatkan masyarakat umum.

Apa makna kemeriahan dalam pembukaan Tahun Berhikmat ini? Apakah hanya seremonial belaka dengan niat mau menunjukkan bahwa gereja punya kegiatan yang bisa dilihat oleh umat sendiri maupun masyarakat umum?

Dalam Surat Gembala pembuka Tahun Berhikmat, Uskup Agung KAJ Mgr. Ignatius Suharyo menekankan makna seluruh kegiatan yang akan dijalani Gereja KAJ selama setahun ini. Menggarisbawahi Injil pekan ini tentang orang majus dari timur, Mgr Suharyo menegaskan bahwa  “Pengalaman penampakan atau perjumpaan dengan Tuhan ditawarkan kepada siapa saja tanpa kecuali. Yang membedakan adalah keterbukaan orang untuk menanggapi kesempatan itu.”

Justru di sinilah problemnya. Ada banyak peluang perjumpaan dengan Tuhan, tetapi sering kali kita tidak peka terhadap sapaan Tuhan tersebut. Lantas, bagaimana seharusnya? “Agar kita mampu menemukan sapaan Tuhan dalam setiap peristiwa dan pengalaman hidup, mau tidak mau kita harus memberi perhatian kepada setiap peristiwa dan pengalaman,” tulis Bapa Uskup.

Dari sekian banyak peristiwa yang menjadi “tanda” sapaan Tuhan, Bapa Uskup mencontohkan dua kasus. Pertama, tren maraknya kasus tangkap tangan pejabat yang terduga melakukan tindak pidana korupsi. Menurut Beliau, ini bertentangan dengan “tanggung jawab utama mereka adalah memastikan terwujudnya kesejahteraan warga masyarakat yang ada di wilayah pelayanan mereka.”

Memulai Tahun Berhikmat - Menemukan Jalan dalam Setiap Pilihan“Pejabat-pejabat dan para pelaku korupsi itu pastilah tidak menjalankan amanah sila ke-4 Pancasila, Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/ perwakilan. Mereka bukan pribadi-pribadi yang berhikmat dan bijaksana yang dapat diharapkan mampu menjadikan bangsa semakin bermartabat,” kata Beliau. “Yang paling parah dirusak oleh tindakan koruptif seperti itu adalah kesadaran moral. Ketika pemimpin berperilaku secara moral bermasalah, masyarakat dapat kehilangan orientasi nilai, tidak tahu lagi mana yang baik dan mana yang buruk, mana yang benar dan mana yang salah.”

Fenomena kedua yang ditunjukkan Bapa Uskup adalah seekor ikan paus terdampar di salah satu pulau di bagian timur Indonesia dalam kondisi membusuk. Yang mengenaskan adalah hampir enam kilogram sampah plastik ditemukan di dalam perut ikan paus tersebut. “seekor ikan paus terdampar di salah satu pulau di bagian timur Indonesia dalam kondisi membusuk. Keprihatinan yang dilayangkan Bapa Uskup itu “Sampah plastik saat ini sudah menjadi masalah global yang perlu kita sikapi dengan sungguh-sungguh. Negara kita menjadi penyumbang sampah plastik kedua di dunia, dengan jumlah 64 juta ton setiap tahun, 3,2 juta ton di antaranya masuk ke laut.”

Lantas, apa relevansi bagi kita? Terhadap dua kasus itu, pesan Bapa Uskup sama: “Kita dipanggil untuk menjadi pribadi-pribadi yang semakin berhikmat-bijaksana, juga dalam segala kekayaan maknanya.” Bagaimana mewujudkan panggilan itu? Bapa Uskup menunjukkan bagaimana Paus Fransiskus menunjukkan caranya. “Kita diajak untuk sungguh menyadari panggilan kita untuk bertumbuh dalam kasih dan kesucian serta menemukan jalannya dalam setiap pilihan dan keputusan yang kita ambil.”

Semua bisa dimulai dari langkah kecil yang konkret. “Misalnya dalam tata layanan paroki kita pastikan semangat taat asas; atau dalam rangka merawat lingkungan hidup kita pastikan keberlanjutan gerakan pantang plastik dan styrofoam.”

Dari langkah kecil, kita bisa membuat perubahan besar.