06 Nopember 2011

Tahun II - No. 45

 

HENDAKLAH PELITAMU SELALU BERNYALA

Liturgi Gereja pada minggu-minggu terakhir tahun liturgi mengajak kita merenungkan hal-hal terakhir perjalanan hidup kita. Gereja digambarkan sebagai umat Allah yang sedang dalam peziarahan melintasi hal ikhwal dunia menuju kebahagiaan surgawi. Gereja adalah persekutuan para kudus, yaitu persukutuan orang beriman yang telah dikuduskan berkat kurban Yesus Kristus. Persekutuan itu terdiri dari orang-orang kudus yang sudah jaya dalam perjuangan iman dan karena itu telah diperkenankan mengalami kemuliaan surgawi sepenuhnya. Kita merayakan mereka setiap tanggal 1 Nopember. Pada hari raya semua orang kudus kita menyatakan persekutuan kita dengan semua orang kudus dan mohon doa mereka serta menimba inspirasi dari hidup  mereka untuk perjuangan iman kita. Hari berikutnya, tanggal 2 Nopember, kita memperingati arwah orang beriman, baik anggota keluarga, komunitas, kenalan, maupun orang-orang beriman yang tak dikenal. Kita mendoakan mereka agar memperoleh kerahiman Tuhan dan diperkenankan masuk dalam kemuliaan surgawi. Dengan demikian kita menyatakan persekutuan kita dengan Gereja Kudus sepanjang masa. Dari perayaan dan peringatan itu kita diteguhkan dalam iman, yang masih harus kita perjuangkan dalam peziarahan kita di dunia.

Injil hari Minggu ke-32 ini mengajak kita menyadari pergerakan hidup kita menuju akhir peziarahan, yaitu saat kedatangan Kristus pada akhir zaman (parousia). Hari kedatangan Kristus itu merupakan hari yang menentukan nasib abadi kita: kita akan masuk dalam kebahagiaan abadi bersama Dia, atau tidak. Perumpamaan tentang sepuluh gadis, lima diantaranya bodoh dan lima bijaksana, mengajarkan tentang sikap selalu siaga dan berjaga-jaga menyongsong kedatangan Tuhan.

Perumpamaan itu memperingatkan kita akan dua hal. Pertama, ada hal-hal menentukan yang tidak  bisa  diperoleh dalam menit-menit terakhir hidup kita. Adalah sangat terlambat bagi seorang murid sekolah jika baru mulai belajar pada saat ujian sudah tiba. Atau seorang  yang  baru mencari keahlian tertentu pada saat mendapat tawaran pekerjaan dengan tututan keahlian yang sudah harus dimiliki. Demikian pula, ada banyak hal dan sikap yang bisa membuat kita terlambat sehingga tidak siap menghadap Tuhan. Dan keterlambatan selalu  menjadi sebuah tragedi.

Kedua, perumpamaan itu memperingatkan kita bahwa ada hal-hal tertentu yang tak dapat dipinjam. Kelima gadis bodoh itu disadarkan bahwa tidak mungkin meminjam minyak  dari kelima gadis lain pada saat ia membutuhkannya. Seseorang tidak bisa meminjam suatu relasi dengan Tuhan. Ia sendiri harus memiliki relasi itu untuk dirinya. Pada saat terakhir tidak mungkin kita mengandalkan jasa orang lain. Meskipun kita membutuhkan dukungan dari orang lain, namun  akhirnya setiap orang bertanggung jawab sendiri dalam menyambut kedatangan Tuhan dan harus siap sendiri dengan pelita iman dan kasih.

“Oleh karena itu, berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu hari maupun saatnya” (Mat 25:13), dan hendaklah “pelitamu tetap bernyala” (Luk 12:35).
Rm. H. Natawardaya.