Warta 16 Februari 2020
Tahun IX - No.07

Surat Keluarga Komisi Kerasulan Keluarga KAJ
Keluarga Waspada Trauma

[Download versi lengkap warta - PDF]

Surat Keluarga Komisi Kerasulan Keluarga KAJ - Keluarga Waspada Trauma

Keluarga Katolik yang terkasih, salam sejahtera dan berkat dari Allah Yang Mahabaik untuk kita semua. Membaca berita-berita akhir-akhir ini benar-benar membuat kita semua kuatir dan sekaligus cemas. Setiap anggota keluarga kita bisa terkena ancaman kejahatan yang membuat mereka mengalami trauma karena perbuatan orang-orang yang tidak bertanggung jawab, mulai dari orang-orang di rumah sendiri, teman-teman, maupun orang yang tidak dikenal.

Kejahatan seksual, kejahatan bully, kejahatan “body-shaming", kejahatan karena kekerasan fisik maupun verbal, dan banyak hal lain yang bahkan dapat digolongkan dalam perbuatan kriminal yang membuat kita harus semakin waspada dan yakin bahwa kejahatan seperti itu memang benar-benar ada, dan bisa melanda siapa saja dan di mana saja. Kita benar-benar berada dalam situasi serba kurang aman, meskipun masih jauh lebih banyak orang-orang baik, tetapi satu orang tak bertanggung jawab melakukan perbuatan jahat dan tercela, maka bekasnya akan teringat sepanjang masa.

Kejahatan seksual semakin banyak terjadi dalam rupa-rupa bentuk dan modusnya. Kejahatan ini lebih sering dilakukan oleh orang-orang terdekat, yang sering berjumpa dengan anak-anak atau anggota keluarga yang lain, yang rentan, lemah, dan tak berdaya. Anak-anak adalah salah satu yang paling sering menjadi korban kejahatan ini. Dengan dalih berbuat baik, menolong, bersikap ramah, bersikap bijaksana, tetapi kemudian mengambil manfaat yang tidak disepakati oleh pihak korban, menjadikan trauma seksual menjadi trauma yang sulit hilang bahkan bisa berakibat transformatif negatif.

Kejahatan bully mempunyai banyak bentuk dan ceritanya. Orang yang terkena bully, terutama anak-anak yang lebih lemah, perempuan, dan siapa saja yang dalam posisi lebih rentan, mengalami bully sebagai salah satu trauma yang bisa sangat mengganggu pertumbuhan psikis anggota keluarga kita. Bully melemahkan pikiran, harapan baik, kemerdekaan bertindak dan berpikir, sampai menghambat kepribadian secara mendasar. Bully bisa jadi suatu kejahatan yang tersembunyi dan secara perlahan merusak anggota keluarga yang terkena.

"Body shaming", yang selama ini semakin disuarakan, adalah bentuk kejahatan yang terbungkus omongan antar pribadi yang merusak. Orang dengan bentuk tubuh kurang sempurna, dengan penampilan kurang menarik, dengan ukuran organ yang dianggap kurang, akan semakin terpuruk karena selalu diingatkan oleh hal-hal buruk yang ia alami. Betapa menyedihkan mengingat orang selalu mengatakan “gendut”, “hitam”, “sipit”, “cebol”, “chubby”, dan masih banyak istilah lain yang membuat orang anti pada dirinya sendiri dan menjadi inferior (tidak percaya diri).

Kekerasan dalam rumah tangga atau bully secara fisik adalah juga ancaman yang mengerikan pada beberapa orang yang terkena. Bekas-bekas pukulan yang sudahsembuh pun tidak akan dapat menghilangkan kenangan buruk yang dialami. Kekerasan fisik masih terjadi bahkan dilakukan oleh orang-orang terdekat seperti orangtua, kakak, paman, sepupu, dan kenalan lainnya. Kekerasan verbal juga mempunyai hasil yang mirip, sebab perkataan dan serapah yang kasar tetap mengena pada perasaan orang yang tidak mudah dihilangkan dari ingatannya.

Keluarga-keluarga yang terkasih, mari kita semakin mengamati, melihat lebih dalam, menginginkan lebih baik, untuk mengetahui situasi orang-orang terdekat kita agar tidak mengalami trauma yang menyakitkan. Kita perlu memahami bahwa tidak semua orang yang mengalami kejahatan dalam rupa rupa tersebut di atas akan menyampaikan dan mengatakan dengan jujur situasi yang dialaminya.

Kita perlu rajin bertanya, mendekati anggota keluarga kita yang lemah, agar kita dapat mengetahui lebih dini jika mereka mengalami ancaman kejahatan di luar atau di dalam rumah. Kita perlu membangun komunikasi yang dekat dan mendalam kepada anak-anak, atau kepada anggota keluarga yang lemah. Saya percaya dengan komunikasi dan kesadaran akan ancaman peristiwa traumatik ini, kita akan dapat menghindarkan mereka dari hal yang mengkhawatirkan.

Semoga seluruh keluarga mengalami kebahagiaan; mengalami rasa aman; mengalami kebebasan berekspresi; menjadi percaya diri dan termotivasi untuk mengembangkan dirinya; dan bersyukur atas hidupnya sebagai anugerah dari Allah. Mari mewujudkan cinta di bulan kasih ini melalui perhatian pada hal-hal yang bisa merusak. Barangkali suatu isu yang negatif justru dapat mendekatkan kita sekeluarga satu sama lain, agar semua merasakan damai sejahtera dalam hidupnya. Tuhan memberkati… Salam Keluarga Kudus. (Rm. Alexander Erwin Santoso MSF)