29 Oktober 2011

Tahun II - No. 44

 

CAHAYA LITURGI


Unsur cahaya dalam gereja seperti pada umumnya dalam suatu bangunan gedung adalah dengan memanfaatkan penerangan  melalui Cahaya Alami (cahaya matahari) dan menciptakan Cahaya Rekayasa/Buatan (cahaya penerangan lampu/lilin). Yang membedakannya dengan bangunan lain adalah gereja sangat dominan dalam pemanfaatan unsur cahaya lilin dalam penerangannya baik ditinjau dari segi fungsinya maupun unsur ritualnya.

Pada dasarnya tidak ada suatu ketentuan mengharuskan pencahayaan tertentu didalam suatu gereja, bahkan justru harus dihindari unsur pencahayaan yang bersifat terlalu “dinamis dan atraktif” seperti  yang biasanya terdapat dalam suatu bangunan komersil,karena hal tersebut  dapat mengganggu jalanya prosesi perayaan karena dapat mengalihkan perhatian umat kepada hal-hal yang tidak bersifat ibadah. Prinsipnya sejauh dalam suatu Perayaan Ekaristi adanya penerangan yang cukup dan memadai sudah menjadi persyaratan yang wajar. 
Namun disisi lain gereja Katolik kita sangat memberi perhatian khusus pada unsur pencahayaan. Efek dari cahaya atau terang yang dihasilkan merupakan nilai simbolis dan pencitraan tertentu, sehingga sentuhan unsur cahaya dalam gereja lebih bersifat  untuk menciptakan suasana liturgis selain berfungsi sebagai penerangan pada umumnya.

Cahaya sinar lampu/lilin dan cahaya sinar matahari yang menerangi seisi ruang gereja merupakan cahaya sinar Ilahi yang menerangi hari nurani seluruh umat-Nya, juga merupakan  hiasan dan kemeriahan seluruh umat-Nya menyambut dengan suka cita dalam rumah Tuhan Kita Yesus Kristus.
CAHAYA ALAMI
Cahaya alami merupakan pancaran sinar matahari melalui jendela-jendela gereja. Sisiran pancaran cahaya matahari pada suatu gereja yang jendelanya memiliki interior ukiran/gambar ornamen-ornamen(mosaik) seperti  lukisan Tuhan Yesus Kristus, Bunda Maria sampai para orang Kudus (Santo-Santa)akan memberi kesan liturgis yang kuat ketika dimana tebaran biasan cahaya matahari menerangi melewati sisi-sisi lukisan kaca karya seni yang sangat indah tersebut,  menimbulkan  nuansa kesakralan yang kental dan menghantarkan kita ke dalam Perayaan Ekaristi yang teduh, sejuk dan damai.  

CAHAYA REKAYASA/BUATAN
Fungsi penerangan cahaya rekayasa yang dihasilkan lilin/lampu merupakan upaya gereja untuk merangsang panca indra kita khususnya penglihatan agar merasakan atmosfir suasana liturgis sehingga terbentuknya kesejukan dan kedamaian dalam hati kita, memciptakan kesan sedemikian rupa agar Perayaan Ekaristi sungguh-sungguh dapat mengantar umat kepada pertemuan dengan yang Ilahi.

CAHAYA LAMPU
Fungsi penerangan cahaya pada gereja antara lain :
•    Gradasi pencahayaan area tertentu membantu umat untuk membedakan arti dan nilai  mana area/ruang  yang lebih suci lebih sakral dibandingkan tempat yang lain, misal disekitar area Altar, Salib Yesus, Patung Bunda Maria, Jalan Salib, Tabernakel,  Air Suci, dan lainnya.
•    Sama seperti penerangan lampu pada sebuah gedung bangunan, penerangan lampu gereja juga berfungsi membantu pencahayaan pada umat maupun petugas lektor, koor, dan para imam untuk dapat melaksanakan perayaan dengan baik dan tertib.

CAHAYA LILIN

Cahaya yang dihasilkan lilin mempunyai makna teologis yang sangat penting  bagi gereja Katolik kita, antara lain :
•    Cahaya Lilin melambangkan Kristus sebagai Cahaya dan Terang Dunia
•    Cahaya Lilin melambangkan Pengorbanan dan Kasih, lilin yang membiarkan dirinya terbakar habis merupakan simbol Pengorbanan dan cahaya yang dihasilkan menerangi seluruh sisi kegelapan merupakan Kasih Tuhan Yesus yang menerangan seluruh umatnya.
•    Cahaya Lilin Paskah menjadi simbol ritus lucernarium, ritus cahaya malam Paskah simbol Kristus Sang Cahaya Dunia Sumber Segala Terang
•    Api yang menyala pada lilin melambangkan cahaya mengusir kegelapan, Kristus yang mengalahkan kematian
•    Cahaya lilin pada Altar dan lilin perarakan juga memberi makna tanda akan Kehadiran Yeusus Kristus pada Perayaan tersebut.
•    Nyala api dan cahaya pada tabernakel melambangkan didalamnya terdapat Sakramen Mahakudus yaitu Tubuh Kristus dalam rupa roti yang telah dikuduskan dalam Perayaan Ekaristi, selain itu cahaya lampu menyala terus menerus juga merupakan tanda dan ungkapan hormat kita akan kehadiran Kristus.

- Seksi Liturgi Paroki SanMaRe