Warta 26 Januari 2020
Tahun XI - No.04

Misa Imlek 2020: Inkulturasi dan Tradisi

[Download versi lengkap warta - PDF]

Misa Imlek 2020: Inkulturasi dan Tradisi

Apa itu Imlek?

Imlek adalah perayaan Tahun Baru bagi orang Tionghoa, bertepatan dengan hari pertama bulan pertama dalam kalender Cina. Sekalian menandai dimulainya musim semi, musim harapan dan kehidupan baru bagi dunia pertanian. Berakhirnya musim dingin, di mana tanah pertanian nyaris mati dan tidur, menjadi tanda harapan dan kehidupan baru melalui musim semi, musim kehidupan. Maka perayaan ini ditandai juga dengan doa, ucapan syukur dan permohonan berkat. Sesungguhnya Imlek bukan berhubungan langsung dengan perayaan ritual keagamaan sebuah religi tertentu, tetapi lebih sebuah perayaan budaya.

Imlek dirayakan melalui beberapa kegiatan seperti : perayaan perpisahan tahun ditandai dengan makan bersama keluarga, dimana anak‐anak biasanya mendatangi orang tua, doa syukur di rumah maupun di Vihara. Kebiasaan memberikan hadiah/angpao dari yang sudah menikah kepada mereka yang belum menikah. Keluarga‐keluarga seolah ‘istirahat sejenak’ dari kesibukan kehidupan untuk bertemu, bersilahturahmi, merajut relasi dan ungkapan hormat dan bakti serta kasih satu sama lain, dengan saling bertemu makan dan minum bersama. Orang saling mengucapkan ‘Gong Xi Fai Cai’ yang secara sederhana berarti ‘selamat dan sejahtera’. Ucapan ini mengandung doa syukur atas semua yang sudah lewat sekalian harapan besar akan masa yang akan datang.

Misa Imlek 2020: Inkulturasi dan TradisiApa itu Misa Imlek?

Misa Imlek adalah misa yang diwarnai dengan suasana Imlek dan merupakan salah satu bentuk misa inkulturasi. Imam bersama umat katolik, khususnya yang keturunan Tionghoa, yang memiliki budaya atau latar belakang perayaan tahun baru imlek menyelenggarakan misa syukur bersama serta permohonan berkat bagi keluarga dan komunitas, dalam memasuki tahun yang baru.

Mengapa Gereja Katolik mengadakan misa imlek?

Pertama, Gereja Katolik menghargai dan menghormati apa saja yang baik dalam budaya‐budaya umat manusia. Begitulah Gereja menghargai budaya perayaan tahun baru Imlek, yang dianut sebagian penganut umat Katolik. Apa yang dianggap baik dalam budaya ini? Kesadaran dan kemauan bersyukur atas pengalaman hidup sepanjang tahun lalu dan permohonan berkat Tuhan untuk tahun baru. Keyakinan akan masa depan baru yang penuh pengharapan di dalam Tuhan Pencipta. Serta, membangun kerukunan dan kasih sayang dalam keluarga/komunitas.

Kedua, Gereja Katolik ingin bersyukur, berdoa dan membangun persaudaraan Bersama penganut‐penganutnya, melalui ‘misa Imlek’, melalui doa dan pewartaan akan harapan baik di masa depan, serta mendukung upaya‐upaya membangun kerukunan, persaudaraan sejati di dalam keluarga, komunitas, paroki, gereja bahkan masyarakat.

Ketiga, Gereja Katolik bukan hanya ikut merayakan Imlek tetapi juga mau mengangkat nilai‐nilai luhur yang dikandungnya yang sejalan dengan azas ajaran kristiani. Misalnya : perayaan syukur diangkat dalam tingkatan sakramen ekaristi yang adalah eucharestia, perayaan ucapan syukur kepada Tuhan, kita tidak bersyukur hanya di restoran, di pantai, dengan plesir dan pesta pora tetapi dalam ekaristi di gereja. Gereja mau menanamkan pentingnya pengharapan, lewat simbol musim semi; Kristuslah musim semi Gereja dan dunia, yang membawa harapan baru, Ia adalah tunas harapan, tunas kesejahteraan dan keselamatan. Selanjutnya, perayaan keluarga, menjadi kesempatan meningkatkan hormat dan kepatuhan kepada orang tua, saling hormat dan support satu sama lain sebagai anggota keluarga. Berbagi berkat dan rahmat, bukan saja melalui angpao tetapi juga melalui berkat/hadiah rohani berupa pesan‐pesan Kitab Suci, teladan‐teladan dan keutamaan‐keutamaan kehidupan yang positif, serta kesediaan berbagi berkat dengan mereka yang lebih membutuhkan.

Misa Imlek 2020: Inkulturasi dan TradisiHal‐hal khas dalam misa Imlek

Beberapa hal yang khas dalam misa imlek ialah : imam dan petugas‐petugas liturgi menggunakan pakaian liturgis berwarna dasar merah serta aksesoris khas yang sederhana. Bacaan Kitab Suci dibawakan dalam bahasa Mandarin dengan terjemahan bahasa Indonesia. Lagu‐lagu rohani yang bernuansa Tionghoa yang cocok dengan kaidah liturgi, bisa digunakan. Begitu pula, hiasan panti imam dan gereja, sedikit ditandai aksesoris imlek seperti lampion, yang menjadi simbol lilin, terang dunia dan pohon Mei Hwa sebagai pohon kehidupan, pohon pengharapan, pohon rahmat dan rejeki… Gereja katolik berhati‐hati dalam penggunaan aksesoris atau ritual imlek lainnya di dalam gereja seperti penggunaan tarian Liong dan Barongsai, sebab dalam liturgi di dalam misa, umat datang menghadap Tuhan, bukan untuk menikmati show atau pertunjukan. Liturgi bukanlah tontonan atau pertunjukan, melainkan ibadah.

Kekhususan yang unik adalah pemberkatan jeruk yang kemudian dibagi‐bagikan kepada umat di akhir misa, disertai ‘angpao Sabda’ di mana di setiap amplop merah diselipkan 1 ayat dari Kitab Suci yang kiranya menjadi ‘santapan rohani’ atau kiranya menjadi ‘bekal’ tahun baru bagi yang mendapatkannya.**

Ditulis oleh: Laurentius Melvin Pratama