Warta 10 November 2019
Tahun X - No.45

Allah Orang Hidup, Bukan Orang Mati

[Download versi lengkap warta - PDF]

Allah Orang Hidup, Bukan Orang Mati

Memasuki pekan-pekan terakhir dalam tahun liturgi, kita semua diorientasikan untuk merenungkan tentang kehidupan kekal. Kita sudah mengawali hidup dengan kelahiran dan akan mengakhirinya dengan kematian. Namun kematian itu sendiri bukan akhir segalanya. Ketika kita mati, kita akan mati bersama Kristus. Kristus sendiri yang akan membangkitkan semua orang mati, dan mengubah badan yang fana menjadi serupa dengan TubuhNya yang mulia. Tuhan Yesus sendiri akan menghapus setiap tetes air mata dan akan memandangNya selamanya.

Kita mendengar kisah Injil (Luk. 20:27-38) yang sangat menarik perhatian. Orang-orang Saduki yang tidak percaya pada kebangkitan datang kepada Yesus untuk mencobai Dia. Orang-orang Saduki adalah keturunan imam Zadok, dari keturunan Harun (2Sam 8:17; 1Taw 6:8). Mereka ini adalah para imam yang menjalankan ibadat di Bait Allah di Yerusalem setelah masa pembuangan (Yeh 40:46;34:19). Pada zaman Yesus mereka ini termasuk satu kelompok ningrat yang tidak mengakui adanya kebangkitan.

Untuk itu mereka mengangkat sebuah kasus poliandri. Ada seorang wanita yang menikah dengan tujuh bersaudara (perkawinan ipar), tetapi tidak meninggalkan keturunan (anak laki-laki). Pertanyaan mereka adalah, pada hari kebangkitan nanti siapakah yang akan menjadi suaminya yang sah? Yesus dengan bijaksana tidak menjawab: “Orang-orang dunia ini kawin dan dikawinkan, tetapi orang yang dianggap layak mendapat bagian dalam dunia yang lain itu dan dalam kebangkitan dari antara orang mati tidak kawin dan tidak dikawinkan. Sebab mereka tidak mati lagi. Mereka sama seperti malaikat-malaikat dan menjadi anak-anak Allah karena mereka telah dibangkitkan”.

Yesus kemudian mengakhiri penjelasanNya dengan mangatakan bahwa Allah kita bukanlah Allah orang mati melainkan Allah orang hidup sebab di hadapan Dia semua orang hidup. Apa artinya? Hanya orang hidup dapat berhubungan dengan Tuhan Allah. Menurut Kitab Suci, Allah tetaplah Allah nenek moyang mereka setelah meninggal dunia karena Allah memelihara mereka di seberang kematian. Ini tentu mengandaikan adanya kebangkitan badan dan kehidupan kekal.

Paham kebangkitan juga kita dengar dalam bacaan pertama dari Kitab Kedua Makabe. Dikisahkan bahwa ada tujuh orang bersaudara bersama ibunya ditangkap dan dihukum mati pada zaman raja Antiokhus Epifanes. Dengan siksaan cambuk dan rotan, mereka dipaksa untuk makan daging babi yang haram. Bagi mereka, babi adalah hewan najis, haram maka tidak bisa dimakan. Salah seorang anak yang menjadai juru bicara mengatakan bahwa lebih baik mereka mati dari pada melanggar hukum nenek moyang.

Allah Orang Hidup, Bukan Orang MatiKeluarga ini memberi teladan kepada kita bahwa hidup kekal itu dimulai sejak saat ini. Prinsip yang bagus adalah lebih baik mati dari pada melawan hukum-hukum Tuhan. Dengan kata lain, lebih baik mati dari pada berbuat dosa. Mereka sekeluarga memperjuangkan nilai-nilai kebenaran dan keadilan sebagai orang yang percaya kepada Yahwe. Hidup ini akan bernilai bukan hanya tergantung pada makanan yang dimakan, pada kekuasaan atau popularitas tetapi hidup itu bernilai ketika cinta kasih, kebenaran dan keadilan ditegakkan.

St. Paulus memahami hidup kekal sebagai kasih karunia dari Tuhan Yesus Kristus, dari Allah Bapa kita yang mengasihi dan menganugerahkan penghiburan abadi serta pengharapan yang baik kepada kita. Bagi Paulus, Tuhan itu setia selamanya. Satu hal yang juga penting diangkat oleh Paulus adalah doa. Jemaat mendoakan para pewarta Injil sama seperti para pewarta juga mendoakan mereka. Doa dapat menguatkan dan ada harapan bahwa Tuhan Allah yang hidup memberikan perlindunganNya kepada mereka yang berharap kepadaNya.

Sabda Tuhan pada Hari Minggu ini sangat meneguhkan kita semua. Tuhan sangat baik sehingga memberi perlindungan bahkan memberikan anugerah kehidupan kekal kepada mereka yang percaya kepadaNya. Pada hari ini kita disadarkan bahwa kebangkitan badan dan kehidupan kekal adalah panggilan luhur Tuhan bagi kita. Ia memiliki rencana yang indah bagi kita dan akan menganugerahkannya kepada kita pada saat maut menjemput kita. Untuk itu, kita semua memiliki waktu yang diberikan Tuhan untuk selalu siap menanti kedatanganNya. Semoga kita menjadi hamba yang siap untuk menyambut kedatanganNya  sehingga mendapat sapaan “berbahagia” dari Tuhan sendiri.

Diambil dari kotbah P. John Laba SDB di pejesdb.com