Warta 29 September 2019
Tahun X - No.39

Berbagilah dengan Sesamamu

[Download versi lengkap warta - PDF]

Berbagilah dengan Sesamamu

Seorang nenek miskin diadili karena mencuri sepotong roti di kota New York, sekitar tahun 1930-an. Saat itu Amerika Serikat sedang mengalami krisis ekonomi dan banyak orang kelaparan. Sang nenek itu memberi alasan bahwa anak perempuannya sakit, cucunya kelaparan, dan mereka juga miskin karena suaminya sudah meninggal dunia. Hakim di pengadilan menghukum nenek itu membayar US$ 10. Kalau tidak mampu, ia harus dikurung dalam 10 hari penjara.

Nenek itu remuk hatinya. Lalu sang hakim itu berdiri, mencopot topinya, meletakkan uang US$ 10 di atas topinya. Kemudian hakim itu mengatakan ke para hadirin di sidang: “Saya juga mendenda semua hadirin di sini sebanyak US$ 50 sen, karena kalian telah bersalah, tidak memiliki sikap bela rasa terhadap salah satu orang miskin di kota New York ini sehingga ia mencuri sepotong roti.” Panitera disuruh mengumpulkan denda dan hasilnya terkumpul US$ 47 dan 50 sen lantas diberikan ke nenek itu.

Pekan ini, kita mendengar Kisah Injil yang menarik perhatian. Yesus menceritakan kisah seorang kaya raya, tanpa nama. Ia selalu mengenakan pakaian kebesaran berupa jubah berwarna ungu dari kain halus, bersukaria dalam kemewahan. Ada juga seorang pengemis miskin tanpa nama, meskipun dalam teks Injil diberi nama Lazarus (El’azar: Allah menolong). Lazarus ini miskin dan badannya penuh borok. Ia berbaring dekat pintu rumah orang kaya itu sambil menunggu remah-remah dari meja tuannya.

Kedua figur ini sama-sama meninggal dunia. Lazarus langsung dibawa oleh para malaikat dan ke pangkuan Abraham. Ia berada di tempat yang penuh sukacita. Orang kaya pun meninggal dunia dan masuk ke syeol atau neraka. Melihat sosok Lazarus sedang berbahagia, orang kaya itu memohon agar Lazarus mencelupkan ujung jarinya ke air dan membiarkan tetesan air jatuh ke atas lidahnya. Tetapi, Abraham menasihati orang kaya itu bahwa Lazarus dulunya menderita, sekarang bahagia. Pada akhir kisah Injil, Abraham mengatakan bahwa hati orang-orang keras dan tertutup tidak akan meyakinkan mereka untuk bertobat.

Berbagilah dengan SesamamuTuhan Yesus mengangkat figur orang kaya tanpa nama untuk mengatakan bahwa sebenarnya Tuhan itu Mahabaik dan Ia menganugerahkan segala sesuatu untuk kebaikan dan kemakmuran hidup manusia. Masalah yang dimiliki oleh orang kaya ini adalah masalah kepribadiannya. Ia menjadikan kekayaan sebagai tujuan hidupnya dan lupa kepada Tuhan yang menciptakannya dan manusia yang menjadi sesamanya. Ia tidak takut dengan Tuhan bahkan melupakan Tuhan sebagai sumber kehidupan dan asal segala sesuatu. Ia juga buta mata hatinya terhadap sesamanya yang miskin dan menderita. Yesus berkata: “Apa yang kamu lakukan untuk saudaraKu yang paling hina ini, kalian lakukan untuk Aku” (Mat 25:40).

Bagaimana dengan Lazarus? Lazarus adalah gambaran kaum pinggiran masa kini. Mereka yang miskin jasmani dan rohani, menderita sakit, tersingkir dalam masyarakat luas tetapi masih memiliki modal yang kuat yakni rasa percaya yang besar kepada Tuhan. Mereka percaya bahwa Tuhan akan melakukan yang terbaik bagi hidup mereka. Nada-nada penyesalan, bersungut-sungut karena kehidupan yang diwarnai aneka penderitaan itu bisa dihapus ketika kita menyadari bahwa Tuhan tetap mengasihi dan tidak lupa dengan kita.

Apa yang harus kita lakukan sebagai pengikut Kristus? St. Paulus dalam suratnya yang pertama kepada Timotius mengajak semua orfang yang dibaptis dan percaya kepada Kristus untuk menghayati nilai-nilai Injili dengan baik dalam hidupnya. Timotius mewakili Gereja yang disapa oleh Paulus “manusia Allah” diajak untuk menjauhi semua kejahatan, kejarlah keadilan, ibadah, kesetiaan, kasih, kesabaran, dan kelembutan. Hidup kudus tanpa cela haruslah dimiliki setiap orang. Semua ini dapat berhasil kalau orang mengandalkan Yesus di dalam hidupnya.

Sabda Tuhan pada pecan ini mengajak kita semua untuk bertumbuh dalam semangat saling berbagi dengan sesama yang paling miskin. Gerakan saling berbagi ini berasal dari dalam diri pribadi yang tentunya harus dialami di dalam keluarga masing-masing. Orangtua sebagai pendidik pertama seorang insan, mesti membentuk semangat berbagi di dalam diri anak-anak. Lantaran berbagi merupakan sebuah kebiasaan, sebuah budaya di dalam keluarga, pengaruhnya akan luas dalam kehidupan bersama dalam masyarakat. Mari berbagi sebagai saudara!.**

Diambil dari: http://pejesdb.com