Warta 8 September 2019
Tahun X - No.36

Minggu Biasa XXIII
Menggapai Kebijaksanaan Sejati

[Download versi PDF]

Minggu Biasa XXIII - Menggapai Kebijaksanaan Sejati

Bacaan-bacaan Kitab Suci pekan ini membantu kita untuk menggapai kebijaksanaan sejati. Allah adalah sumber kebijaksanaan sejati. Dalam bacaan pertama penulis Kitab Kebijaksanaan  mengatakan bahwa setiap orang memiliki kelemahan di hadirat Tuhan. Salah satu kelemahannya adalah bagaimana ia dapat mengenal Tuhan di dalam hidupnya.

Hanya dengan mengandalkan akal budinya Saja tidaklah cukup. Sebab itu muncullah pertanyaan: “Manusia manakah yang dapat mengenal rencana Allah, atau siapakah yang dapat memikirkan apa yang di kehendaki Tuhan?” (Keb 9:13). Kitab Kebijaksanaan juga mengatakan bahwa manusia memiliki jiwa yang dibebani oleh badan yang fana dan kemah dari tanah memberatkan budi yang banyak berpikir.

Penginjil Lukas melukiskan perjalanan Yesus bersama banyak orang yang berduyun-duyun mengikuti-Nya dari dekat. Kita semua mengerti bahwa perjalanan Yesus adalah sebuah perjalanan salib. Ini adalah sebuah kebijaksanaan. Ia berkata: “Jikalau seorang datang kepada-Ku dan ia tidak membenci bapanya atau ibunya, istrinya, anak-anaknya, saudaranya laki-laki dan perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku. Barangsiapa tidak memanggul salibnya dan mengkuti Aku, ia tidak dapat menjadi murid-Ku” (Luk 14: 26-27).

Kedua hal yang disebutkan di atas merupakan kebijaksanaan di hadapan Yesus, sekaligus syarat mutlak untuk menjadi murid-Nya. Jadi mengikuti Yesus bukanlah hal ikut-ikutan saja. Artinya karena orang lain mengikuti Yesus maka saya juga mengikuti Dia. Orang harus memiliki motivasi yang jelas. Orang bijaksana akan memiliki motivasi yang luhur untuk mengikuti Yesus dari dekat, yakni:

Minggu Biasa XXIII - Menggapai Kebijaksanaan SejatiPertama, seorang yang memiliki kemampuan untuk mengasihi Yesus lebih dari yang lain. Meskipun Yesus menggunakan kata “membenci” tetapi maksud Yesus bukan membenci dalam arti sebenarnya. Ini adalah sebuah gaya bahasa yang dipakai Yesus saat itu. Ia sebenarnya bermaksud mengatakan bahwa murid-Nya yang baik adalah yang mengasihi-Nya lebih dari yang lain.

Kedua, Salib adalah motivasi utama kehidupan kristiani. Mengikuti Yesus berarti siap memanggul salib dan mengikuti Yesus yang memangul salib akibat dosa kita. Yesus tidak hanya mengharuskan kita memikul salib tetapi Dia sendiri menunjukkan teladan kepada kita. Dialah Manusia tersalib yang mengasihi kita sampai tuntas. Ini adalah kebijaksanaan sejati Yesus.

Kebijaksanaan lain yang diajarkan Yesus hari ini adalah kemampuan untuk membuat rencana (planning mentality). Ia memberi contoh tentang orang yang membangun rumah harus duduk dan membuat anggaran belanja sesuai kemampuan ekonominya. Seorang raja yang hendak berperang harus melihat kemampuan militernya. Apakah ia mampu menghadang musuhnya atau tidak. Yesus menunjukkan bahwa manusia lemah dalam planning mentality. Orang yang bijaksana pasti pandai merencanakan segala sesuatu dalam hidupnya. Yesus menutup pembicaraan tentang planning mentality dengan berkata: “Setiap orang di antara kamu yang tidak melepaskan diri dari segala miliknya, tidak dapat menjadi murid-Ku” (Luk 14: 33).

Apa yang hendak Tuhan katakan kepada kita? Pada hari ini pikiran kita diarahkan kepada Tuhan sebagai sumber kebijaksanaan. Kita membutuhkan Roh Kudus untuk membuka wawasan kita dalam memahami rencana keselamatan dari Tuhan. Roh Kudus menguatkan kita untuk mengasihi Tuhan lebih dari segalanya dan memampukan kita untuk berani memikul salib dan mengikuti Yesus dari dekat. Kebijaksanaan sejati membantu kita untuk memperhatikan sesama, dengan tidak memandang latar belakang orang itu tetapi bahwa dia adalah manusia maka kita mengasihinya.**

Diambil dari Kotbah P. John Laba SDB di pejesdb.com