Warta 28 April 2013

Tahun IV - No. 17


"Kamu adalah murid-muridKu, jikalau kamu saling mengasihi"

(Yoh.13:35)


Beberapa bulan yang lalu, rasa keadilan kita terusik oleh berita yang mengejutkan. Berita itu mengisahkan seorang nenek yang dihukum penjara karena kedapatan mencuri kakao di kebun bukan miliknya. Memang berdasarkan aturan hukum yang berlaku, mencuri adalah perbuatan salah yang dapat dikenai sanksi hukuman. Namun rasa keadilan terusik ketika hukum hanya berbicara untuk menjatuhkan putusan benar atau salahnya saja. Yang kurang diperhatikan adalah segi keadilan dan kemanusiaan itu sendiri. Berlaku adil kadang kala belum tentu manusiawi.

Yang menyakitkan lagi adalah berita seorang ibu dipenjarakan oleh anaknya sendiri. Seorang ibu yang sudah tua, yang telah mengandungnya dan memeliharanya tidak lagi dibalas dengan kasih sayang. Sekali lagi hukum dijalankan demi memuaskan keinginan, dendam pribadi tanpa memperhatikan aspek manusianya. Rasa adil, rasa hormat dan bakti pada orangtua sudah semakin luntur karena tuntutan kepuasan diri.

Menilik kedua berita tersebut di atas, kita dapat bertanya dalam hati, dimanakah ajaran Yesus tentang kasih itu diletakkan dan dicerap dalam hidup? Ajaran Yesus tentang kasih itu berlaku universal. Ajaran kasih tidak hanya untuk orang kristiani, tetapi untuk seluruh kehidupan manusia di bumi ini. Kasih yang diajarkan Yesus bukan hanya berlaku untuk orang yang kita cintai, orang yang kita kenal baik atau orang yang telah membela dan membenarkan diri kita.
Akhir-akhir ini kita begitu sering mendengar dan menyaksikan betapa banyak orang yang sudah tidak lagi mampu menerapkan kasih kepada sesamanya. Manusia begitu mudah membenci, memojokkan orang lain, tidak menghargai orang lain hanya karena tidak sejalan dengan harapan dan keinginannya. Ajakan Yesus agar kita menjadi muridNya menjadi sulit dipahami apalagi diikuti karena kita tak mampu menerapkan kasih pada sesama kita. Yesus sendiri semasa hidupNya di dunia ini kerap kali berbenturan dengan orang-orang Farisi dan ahli Taurat karena mereka hanya memperhatikan dan menerapkan aturan semata-mata untuk kepentingan kelompoknya. Unsur kemanusiaan dilalaikan bahkan ditiadakan sama sekali.

Ajakan renungan dari penginjil Yohanes mengingatkan kita agar membangun sikap kasih agar dapat memperbaharui kehidupan kita. Marilah kita berusaha dengan bantuan rahmat Allah supaya kita mampu mengenakan hidup baru yang penuh kasih. Kita harus berani meninggalkan keinginan diri kita sendiri, menjauhkan prasangka buruk, meninggalkan keangkuhan dan mau menag sendiri, menjauhkan diri dari omongan-omongan kasar, kesombongan, kerakusan dan yang merusak nilai-nilai kasih.
Tuhan memberkati.

Rm. Yus Noron
St. Maria Regina, Bintaro Jaya