Warta 14 April 2013

Tahun IV - No. 15


MELIHAT TUHAN DALAM KESIBUKAN


Sesudah bangkit dari kubur, Tuhan Yesus beberapa kali menampakkan diri kepada murid-murid-Nya. Injil hari Minggu Paska III mengisahkan penampakan Tuhan Yesus di pantai danau Tiberias. Peristiwa ini kiranya memberi inspirasi kepada kita dalam menghayati kehadiran Tuhan Yesus dalam hidup kita sehari-hari.

Dalam penampakan kali ini, Yesus hadir bukan pada saat murid-murid-Nya sedang berkumpul dalam suatu rumah, melainkan saat mereka sedang sibuk dengan pekerjaan mereka. Setelah mengetahui Yeus bangkit, mereka tetap kembali kepada kehidupan sehari-hari. Mereka adalah nelayan-nelayan yang harus mencari nafkah dengan menangkap ikan. Pada saat mereka sedang sibuk bekerja itulah Tuhan Yesus hadir. Pada awalnya mereka tidak menyadari kehadiran-Nya. Tetapi Yesus menyapa mereka dengan sapaan yang biasa dalam hidup sehari-hari: pertanyaan tentang lauk-pauk. Kemudian Yesus menyuruh mereka menebarkan jala. Saat mereka  melakukan sabda-Nya, mereka menangkap ikan dalam jumlah yang luar biasa. Mengalami itu mulai sadar bahwa yang hadir itu adalah Tuhan Yesus. Selanjutnya mereka mengalami kebersamaan dengan Yesus dalam relasi yang sederhana dan bersifat keseharian: menyiapkan makanan lalu sarapan bersama.
Inspirasi apa yang bisa kita timba dari peristiwa itu? Sebagaimana dialami murid-murid pada waktu itu, sekarang pun Tuhan Yesus hadir di tengah-tengah kita. Tidak secara kelihatan tertangkap indera fisik, melainkan dalam kehadiran yang hanya tertangkap oleh iman. Sebagaimana dulu Tuhan Yesus hadir pada murid-murid di tengah kesibukan pekerjaan, demikian juga sekarang Yesus hadir di tengah-tengah kita. Kehidupan sehari-hari kita pada umumnya diwarnai kesibukan pekerjaan. Tuntutan pekerjaan telah menyita hampir seluruh waktu, tenaga dan perhatian kita. Tidak sedikit yang mengeluh begitu capek hingga tidak ada lagi waktu dan tenaga tersisa untuk doa, yang merupakan ungkapan iman di mana kita menanggapi secara sadar dan eksplisit kehadiran Tuhan. Dalam kondisi kehidupan yang demikian perlulah kita belajar dari para murid untuk tetap mampu “melihat Tuhan” dalam kesibukan sehari-hari.

Beberapa hal dari pengalaman murid-murid bisa membantu kita untuk akhirnya dapat berkata: “Itu Tuhan”, pada setiap kejadian dalam kesibukan kita. Sapaan penuh kasih persaudaraan meskipun dalam hal-hal kecil, sederhana, bahkan profan (duniawi); pengalaman kejadian luar biasa dan tak terduga yang bisa diakui sebagai mukjijat; bantuan dan kebaikan sesama yang bisa disadari sebagai penyelenggaraan Ilahi. Semua peristiwa dalam kesibukan sehari-hari sesungguhnya bisa membawa pada kesadaran akan kehadiran Tuhan.

Agar bisa belajar menangkap kehadiran-Nya setiap saat, marilah kita mohon karunia Roh Kudus, daya Ilahi yang dianugerahkan Tuhan kepada setiap orang. Roh Kudus itulah yang akan mengajar, menerangi dan memperkuat kita, sehingga kita makin memiliki kepekaaan budi dan hati untuk mengenali Tuhan dalam hidup kita. Semoga kesadaran akan kehadiran dan karya-Nya memperteguh hidup iman, memberi arah dan gairah dalam karya, serta memberi rasa damai dan kegembiraan yang sejati dalam hidup. Tuhan memberkati.

H. Natawardaya, Pr.
St. Maria Regina, Bintaro Jaya