Warta 07 April 2013

Tahun IV - No. 14


TANTANGAN HIDUP ORANG BERIMAN
Yoh. 20: 19-31


Saya merasakan bahwa sebagai orang beriman yang hidup di jaman sekarang tidaklah mudah. Adanya pengalaman buruk yang membuat trauma manakala tinggal di tempat yang baru. Selalu terulang pertanyaan apakah daerah atau tempat saya tinggal ini, aman? Apakah orang-orang di sini bersahabat? Apakah warga di sini memiliki tradisi yang selalu "guyub"? Bagaimanakah seharusnya saya berada di sini? Hal-hal ini selalu berputar dalam pikiran saya.

Sebagai orang beriman, apakah ketakutan-ketakutan saya itu berlebihan, atau "lebay" dalam bahasa anak gaul? Tidak! Namun saya perlu memiliki keberanian diri untuk dapat menyesuaikan diri dengan keadaan dimana saya tinggal. Kalau saya hanya mengurung diri, pastilah saya akan terus dihantui oleh pertanyaan-pertanyaan yang hanya didasari oleh perasaan saya saja.

Tentu ada banyak hal yang menggelayut di pikiran saya bila saya hanya berani bertanya dalam diri sendiri. Inilah persoalannya. Bila saya bertanya melalui doa kepada Tuhan, apakah Dia menjawab atau mendengar? Bila Tuhan tidak mendengar, saya selalu mencoba berpikir bahwa Tuhan jahat dan tidak mau tahu dengan hidup saya.
Penginjil Yohanes kiranya dapat menenangkan hati saya. "Damai sejahtera bagi kamu!" (ay. 19). Namun bagaimana damai yang Yesus sampaikan itu sungguh-sungguh berarti bagiku? Apakah hanya kata-kata "damai" seperti yang sering kita ucapkan di depan orang lain saat ekaristi? Saya kira kita harus melihat teks injil ini secara keseluruhan. Yesus memberikan pegangan yang kuat yaitu dengan kehadiran Roh Kudus, "Terimalah Roh Kudus" (ay. 22). Dengan demikian kedamaian yang diberikan bukan klise, tetapi disertai dengan kekuatan Roh Kudus. Roh Kuduslah yang dapat membuka seluruh pikiran dan cakrawala hidupku. Tanpa bantuan RohNya, ketakutan dan kedamaian hanya tinggal di dalam pikiran saja dan belum menyentuh seluruh hidup.

Pengalaman seorang murid yang bernama Thomas menjadi contoh yang menarik dan relevan bahwa hidup kita seperti dia. Dengan lugunya dia bertanya apa yang dia rasakan. Saat Roh menghimpun dia bersama murid-murid lainnya, Roh itu juga yang membuatnya yakin dan percaya akan janji-janji Yesus. Akhirnya bersama murid lainnya, Thomas pun percaya dan berani menjadi saksi Kristus. Ia tidak ragu-ragu lagi. Ia sadar akan bimbingan Roh yang menyertai Yesus dan murid lainnya.

Keragu-raguan dan ketakutan Thomas seharusnya menjadi refleksi bagi kita. Sedalam apakah imanku terhadap Kristus yang bangkit? Atau apakah hal itu hanya dorongan Gereja supaya kita percaya sepenuhnya pada Kristus? Jawabannya ada dalam hidup kita masing-masing. Apabila kehadiran Kristus dalam hidup kita ini hanya bayang-bayang saja, iman akan sangat simplistis dan rapuh. Apabila kita beriman hanya ketika kita bersama-sama dengan saudara-saudara kita, juga akan rapuh bila berhadapan dengan tantangan-tantangan yang mengerikan. Tetapi sebalikny! Bila kita terbuka akan bimbingan Roh Allah, Kristus akan semakin nyata  kita alami.

Tantangan terberat orang beriman masa kini adalah bila Allah hanya ada dalam pikiran pribadi atau apabila kekuatan saya sendiri menjadi lebih utama dibandingkan dengan iman akan Allah.

Marilah kita berusaha seperti Thomas yang setia datang kembali untuk bertemu dengan Sang Guru, Yesus Kristus dengan segala kerendahan dan kepercayaannya.

Wassalam
Yus Noron
St. Maria Regina, Bintaro Jaya