Warta 24 Maret 2013

Tahun IV - No. 12


MENGIKUTI YESUS MASUK YERUSALEM


Hari ini, Minggu Palma, kita memasuki puncak perayaan iman sepanjang tahun liturgi, yakni misteri sengsara, wafat dan kebangkitan Tuhan Yesus Kristus. Tuhan Yesus telah mengemban misi dari Bapa-Nya, yaitu karya penyelamatan dunia. Ia telah melaksanakan dengan setia seluruh misi-Nya melalui hidup, sabda dan karya. Ia akan menyelesaikan misi itu dengan ketaatan sempurna kepada kehendak Bapa melalui sengsara dan wafat di kayu salib. Salib, yang semula menjadi tanda kehinaan, dalam pengalaman Yesus menjadi tanda kemenangan dan kemuliaan. Dalam Pekan Suci seluruh peristiwa itu kita  kenangkan dan rayakan dengan penuh syukur.

Memasuki Pekan Suci kita kenang Yesus yang memasuki kota Yerusalem untuk memulai hari-hari sengsara dan akhir perjalanan misi hidup-Nya. Peristiwa yang kita peringati dengan Minggu Palma merupakan peristiwa penuh tanda. Yesus tampil sebagai seorang raja. Ia disambut umat dengan sorak: “Hosana, terpujilah yang datang dalam nama Tuhan, Raja Israel!” Ucapan “hosanna” dari kata Ibrani “hosyi’ah na” harafiah berarti “aku berdoa selamatkanlah aku sekarang”, merupakan doa yang ditujukan kepada Tuhan, Raja Penyelamat. Minggu Palma menjadi peringatan dan perayaan iman akan Tuhan Yesus Kristus sebagai Mesias.
Dalam peristiwa itu Yesus yang disambut sebagai Raja Mesias tampil mengendarai seekor keledai, sebuah gambaran kontradiktif. Di satu sisi mau dinyatakan kemegahan dan kemuliaan Yesus sebagai Raja Agung, di sisi lain kerajaan-Nya ditampakkan dalam kesederhanaan dan kerendahan. Keledai, hewan pembawa beban dalam hidup sehari-hari rakyat rendahan, adalah simbol kesederhanaan, kerendahan hati dan kesetiaan dalam pelayanan. Dan itulah misteri kasih Tuhan yang hendak diwartakan, direnungkan, dirayakan dan dihayati pada Minggu Palma ini. Raja Penyelamat dunia melaksanakan karya penyelamatan melalui pelayanan dalam kasih.

Dalam Liturgi Pekan Suci keagungan pelayanan dan kasih Tuhan dirayakan secara istimewa dan meriah. Dalam Upacara Kamis Putih Tuhan mengajarkan semangat pelayanan dengan upacara pembasuhan kaki. Pada malam itu juga Tuhan menganugerahkan kenangan kasih, berupa Perjamuan Ekaristi. Pada upacara Jumat Suci kita kenangkan kasih Tuhan yang tiada bandingnya sampai rela sengsara dan wafat di salib. Kita diajak menghormati dan mencintai Salib Tuhan. Dan akhirnya kasih Tuhan yang mengalahkan dosa dan kejahatan kita rayakan pada malam dan Minggu Paskah, puncak perayaan iman kita.

Kita sudah mempersiapkan diri untuk perayaan puncak misteri iman kita selama 40 hari masa Prapaska. Kita berusaha membaharui penghayatan iman kita dengan mengikuti Tuhan Yesus yang berkeliling untuk mendatangi orang-orang yang menderita dan memberikan perhatian dan cinta kepada mereka. Kita telah berusaha untuk meniru Allah yang peduli dan terlibat dalam kehidupan dan derita umat-Nya. Allah Bapa semua orang yang menyatakan Diri-Nya dalam Yesus Kristus yang bersaudara dengan semua orang dan berbelarasa kepada yang menderita.  Kita telah membangun niat untuk bersaudara dan berbelarasa dengan aksi nyata sebagai wujud iman kita.

Dalam peristiwa Minggu Palma kita menyadari bahwa dibutuhkan usaha dan perjuangan yang sungguh serta rahmat yang banyak untuk setia mengikuti Yesus. Kelemahan manusiawi dan sifat kedagingan kita bisa menyebabkan kita dengan mudah meninggalkan Tuhan. Orang-orang yang menyambut Yesus dengan seruan “Hosana” dalam beberapa hari saja bisa berseru “Salibkan Dia”. Hal serupa bisa terjadi pada kita. Karena itu marilah kita tak henti-hentinya mohon rahmat dan daya ilahi agar dengan bantuan rahmat-Nya kita tetap mampu melanjutkan perjuangan tobat kita, yang tentu tidak berhenti dengan lewatnya masa Prapaska, tetapi justru dibangkitkan dengan semangat baru oleh Paskah.
Selamat mengikuti Yesus dalam Pekan Suci.

H. Natawardaya
St. Maria Regina, Bintaro Jaya